Kurindukan hadirnya fajar
Disini,.....
Kuterjebak dalam malam abadi
menantimu,
Putaran waktu tak lagi berarti
Tua atau muda tiada lagi beda
Berhenti di satu titik
Malam abadi
Tiada berakhir
Pergimu
Tinggalkan kutukan padaku
Malamku tiada akhir
Fajar hanya impian
karena matahari tak sudi lagi kembali
Matahari ingkari janji
Senin, 05 Juli 2010
NEKAD = SETAN
Darman nekat
Darman gelap mata
Sudah tiga minggu anaknya sakit
Tidak tahu apa sakitnya
Periksa kedokter tak punya uang
Buat makan saja tidak cukup
Tiap pulang istrinya selalu menangis
Anaknya tak henti mengerang kesakitan
Semakin tersiksa batinnya
Darman nekat
Diambilnya tali
Dijerat leher anaknya sampai mati
Biar kau tak lagi menderita batinnya
Warga kampung heboh
Darman babak belur digebuki sampai sekarat
Darman terus teriak, tapi bukan teriak kesakitan
Aku miskin kalian cuek
Anak istriku kelaparan kalian masa bodo
Anakku sakit kalian pura-pura tidak tahu
Aku bunuh anakku biar tidak menderita
Kalian bilang aku setan
Aku memang setan
Kalian batu
Kalian anjing
Hanya tahu makan dan kawin
Tidak peduli dengan orang seperti aku
Anjing !!!!!!!!!!’
Mau bunuh setan
Silahkan!!!!!!!!!!!!!!!!!
Darman gelap mata
Sudah tiga minggu anaknya sakit
Tidak tahu apa sakitnya
Periksa kedokter tak punya uang
Buat makan saja tidak cukup
Tiap pulang istrinya selalu menangis
Anaknya tak henti mengerang kesakitan
Semakin tersiksa batinnya
Darman nekat
Diambilnya tali
Dijerat leher anaknya sampai mati
Biar kau tak lagi menderita batinnya
Warga kampung heboh
Darman babak belur digebuki sampai sekarat
Darman terus teriak, tapi bukan teriak kesakitan
Aku miskin kalian cuek
Anak istriku kelaparan kalian masa bodo
Anakku sakit kalian pura-pura tidak tahu
Aku bunuh anakku biar tidak menderita
Kalian bilang aku setan
Aku memang setan
Kalian batu
Kalian anjing
Hanya tahu makan dan kawin
Tidak peduli dengan orang seperti aku
Anjing !!!!!!!!!!’
Mau bunuh setan
Silahkan!!!!!!!!!!!!!!!!!
LUNAS
Dalam sela lantunan pujiku pada-MU
Kuputuskan tuk berhenti meminta
Lunas semua harapan dan permohonan
KAU sentuh hati ini dengan Rahim-Mu
kurasakan Rahim-Mu
ku terlarut dalam indah Rahim-Mu
terhanyut dalam keindahan tiada tara
keindahan yang tercipta karena Agung-Mu
Duh Gusti......
malam ini ku buang semua daftar permohonanku
segala keluh kesah kusudahi
karena KAU telah sentuh kalbu ini
Dengan Indah Rahim-Mu
Kuputuskan tuk berhenti meminta
Lunas semua harapan dan permohonan
KAU sentuh hati ini dengan Rahim-Mu
kurasakan Rahim-Mu
ku terlarut dalam indah Rahim-Mu
terhanyut dalam keindahan tiada tara
keindahan yang tercipta karena Agung-Mu
Duh Gusti......
malam ini ku buang semua daftar permohonanku
segala keluh kesah kusudahi
karena KAU telah sentuh kalbu ini
Dengan Indah Rahim-Mu
Kamis, 22 April 2010
HARGA KEBENARAN
Seperti biasanya, Nasrudin memberikan pengajaran di mimbar. "Kebenaran," ujarnya "adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material."
Seorang murid bertanya, "Tapi mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran ? Kadang-kadang mahal pula ?"
"Kalau engkau perhatikan," sahut Nasrudin, "Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahallah ia."
CARA MEMBACA BUKU
Seorang yang filosof dogmatis sedang meyampaikan ceramah. Nasrudin mengamati bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering menggunakan aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah didiskusikan dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik, dianalogikan dengan cara yang tidak semestinya.
Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri. Nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya dengan serius, Nasrudin membuka halaman demi halaman, berdiam diri. Lama sekali. Sang penceramah mulai kesal.
"Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!"
"Aku tahu," jawab Nasrudin acuh, "Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya mempelajari jalan pikiranmu."
Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri. Nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya dengan serius, Nasrudin membuka halaman demi halaman, berdiam diri. Lama sekali. Sang penceramah mulai kesal.
"Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!"
"Aku tahu," jawab Nasrudin acuh, "Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya mempelajari jalan pikiranmu."
Langganan:
Postingan (Atom)